Myane

Mungkin waktu tak akan pernah kembali. Seperti garam yang tak mungkin kembali menjadi lautan. Dan sebutir beras yang tak mungkin kembali menjadi padi. Kesadaran ku terlalu pupus, ketika kembali ku temukan ingatan itu di balik punggung yang bertanya. "Siapa aku?". Begitu katanya. Sampai detik ini, aku belum bisa memposisikan dimana aku berdiri. Dulu memang mudah menentukan kemana pun aku pergi,tapi sekarang jangan kan untuk memilih,untuk meminta diberikan pilihan saja itu tak mungkin. Rasanya perbedaan itu semakin jelas,ketika ku lihat mereka jauh terbang ke angkasa. Sedangkan aku? hanya bersembunyi di balik dinding yang dingin. Tak mampu melihat birunya langit,tak sanggup menikmati sejuknya angin, dan tak bisa merasakan indahnya pelangi. Hujan memang selalu datang,mengetuk pintu seolah ingin di bukakan.Mentari pun begitu,sebentar singgah lalu pergi begitu saja. Tak ada yang bisa ku temukan selain butiran pasir yang terus turun memenuhi langit-langit. Binatang kecil diantara telinga sudah selayaknya teman , menjadi tempat berbagi ketika tak ada yang mendengar. Kita memang berbeda,dunia kita pun tak bisa disandingkan.
Sesekali, ku benamkan wajahku dalam bantal melepas penat. Memikirkan bagaimana bisa bersanding dengan dunia yang sesungguhnya. Dunia ku terlalu fana,semua hanya bisa ku gapai dengan khayalan. Aneh bukan? Tapi setidaknya itu bisa membuat ku lebih baik dari sebelumnya. Aku selalu bertanya pada Tuhan"Mengapa banyak dari mereka yang tak tau cara menggunakan mata? Mengapa harus melihat seseorang dengan salah satunya? mengapa?". Mungkin Tuhan sudah hafal betul doa apa yang selalu aku katakan. Bahkan mungkin Tuhan sudah berganti buku diary berkali-kali untuk mendengar ceritaku. Entahlah..
Ibu bilang "siapapun aku,hanya orang yang benar punya hati saja yang bisa melihatnya".Ibu benar. Tak semua dari mereka yang selalu  melihat dengan hati. Terkadang mereka hanya bisa berkomentar bukan memberi solusi. Sejak pertama kali aku menatap dunia,orang sekitar ku sudah merasakan hal yang tak wajar. Tangisku tak mereka dengar sedikitpun,tubuhku pun membiru seperti habis bertarung dalam perut ibu. Sampai akhirnya,aku harus bertahan hidup melawan sakit. Sudah 7 tahun lamanya semenjak rasa sakit itu hidup dengan merdekanya dalam tulang punggung ku. Aku memang berusaha hidup seperti orang normal pada umumnya,bersekolah,memiliki teman,beraktivitas berat sekalipun. Tapi ketika aku kembali ke tempat peraduan ku,aku tak bisa menatap dunia dengan begitu saja. Aku tak bisa menghirup udara sesuka ku. Jantung ku tak bisa berdegup seenaknya. Aku tak bisa melakukannya seorang diri. Semua sudah ada yang mengaturnya dengan rapih.
Sebuah berlian memang tak selamanya bersinar. Terkadang dia menyimpannya rapat-rapat,namun jika dia temukan orang yang tepat. Maka begitu berharganya berlian itu. Dan aku percaya,segala kesulitan hidup yang selama ini aku alami,adalah kebahagiaan yang sedang ku tabung untuk esok hari. Selama Tuhan masih memberi ku kekuatan untuk bertahan,maka disaat inilah aku akan memberikan mereka kenangan yang tak akan pernah mereka lupakan.
Tapi jika besok cerita ku berakhir,maka disaat itulah jemari ku sudah tak sanggup lagi berbagi. Sudah tak bisa melihat matahari berganti bulan. Sudah tak sanggup memanggil "ibu",sudah tak sanggup merengek pada Tuhan ketika keputus asaan datang silih berganti. Maafkan aku jika pernah membuat air mata kalian terjatuh tak bernilai,jika pernah membangun amarah sehingga menimbulkan kebencian. Namun kesalahan ku tidak bisa ku bawa begitu saja ketika menghadap Tuhan,aku ingin bebaskan aku dari beban berat ketika di perjalanan nanti. Maafkanlah aku..

Komentar